Jumat, 26 Februari 2010

Hukum Mendel I dan II

Hukum Mendel I

Hukum Mendel I atau hukum segregasi bebas menyatakan bahwa selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah, sehingga gen-gen satu alel akam memisah secara bebas dan alel-alel tersebut akan berpasangan kembali secara acak pada saat penyatuan gamet di proses fertilisasi.

Percobaan I Mendel :

Disilangkan kacang ercis berbatang tinggi galur murni dan berbatang pendek galur murni. Batang tinggi dikendalikan oleh gen T , batang pendek ditentulan oleh gen alelnya yaitu gen t. Hasilnya terlihat pada diagram berikut :

P1:

TT

><

tt


(tinggi)


(pendek)

Gamet :

T


t

F1 :


Tt

(tinggi)


P2 :

Tt

(tinggi)

><

Tt

(tinggi)

Gamet :

T


T


t


t

F2 :

Gamet Jantan/ Betina

T

t

T

Tt (tinggi)

Tt (tinggi)

t

Tt (tinggi)

Tt (tinggi)

Rasio Genotipe : 1 TT : 2 TT : 1 tt

Rasio Fenotipe : tinggi : pendek = 3 : 1

Hukum Mendel II

Hukum Mendel II atau hokum asortasi bebas menyatakan bahwa pada saat pembentukan sel-sel gamet, gen-geb yang tidak satu alel akan mengelompok secara bebas setelah memisah dari gen yang satu alel. Gen untuk satu sifat tidak akan berpengaruh pada gen untuk sifat yang lain yang tidak satu alel karena gen-gen yang bukan alelnya mempunyai karakter yang berbeda.

Percobaan II Mendel :

Disilangkan galur murni kacang ercis berbiji bulat kuning dengan galur murni kacang ercis berbiji kisut hijau. Bulat (B) dominan terhadap kisut (b), kuning (K) dominan terhadap hijau (k). Hasilnya terlihat pada diagram berikut :

P1 :

BBKK

(bulat kuning)

><

bbkk

(kisut hijau)

Gamet :

BK


bk

F1 :


BbKk

(bulat kuning)


P2 :

BbKk

(bulat kuning)

><

BbKk

(bulat kuning)

Gamet :

BK

Bk

bK

bk


BK

Bk

bK

bk

F2 :

Gamet Jantan/ Betina

BK

Bk

bK

bk

BK

BBKK

(bulat kuning)

BBKk

(bulat kuning)

BbKK

(bulat kuning)

BbKk

(bulat kuning)

Bk

BBKk

(bulat kuning)

BBkk

(bulat hijau)

BbKk

(bulat kuning)

Bbkk

(bulat hijau)

bK

BbKK

(bulat kuning)

BbKk

(bulat kuning)

bbKK

(kisut kuning)

bbKk

(kisut kuning)

bk

BbKk

(bulat kuning)

Bbkk

(bulat hijau)

bbKk

(kisut kuning)

bbkk

(kisut hijau)

Rasio genotipe : 1 BBKK : 1 BBkk : 2 BBKk : 2 BbKK : 2 Bbkk : 4 BbKk : 2 bbKk : 1 bbKK : 1 bbkk

Rasio fenotipe : Bulat kuning : bulat hijau : kisut kuning : kisut hijau = 9 : 3 : 3 : 1

Tabel Hubungan Antara Banyaknya Sifat Beda dengan Jumlah Gamet dan Fenotipe

Jumlah

Sifat

Beda

Jumlah

Macam

Gamet

Jumlah

Kombinasi

Pada F2

Jumlah

Fenotipe

pada F2

Jumlah

Kombinasi

Baru yang

Homozigot

Pemisahan

Fenotipe

1

21=2

(22)1 =4

21=2

21-2=0

3 : 1

2

22=4

(22)2 =16

22=4

22-2=2

9:3:3:1

3

23=8

(22)3 =64

23=8

23-2=6

27 : 9 : 9 : 9: 3 : 3 : 3 : 1

4

24=16

(22)4 =256

24=16

24-2=14

81 : 27 : 27 : 27 : 27 : 9 : 9 : 9 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3: : 3 : 1

n

2n

(22)n

2n

2n -2

3n: 3n-1…...


Pemisahan fenotipe pada F2 di atas mengikuti aturan segitiga Pascal berikut :
  • monohibrid = 1.31 : 1.30 = 3: 1
  • dihibrid = 1.32 : 2.31 : 1.30 = 9 : 3 : 3 : 1
  • trihibrid = : 1.33 : 3.32 : 3.31 : 1.30 = 27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 1
  • tetrahibrid = 1.34 : 4.33 : 6.32 : 4.31: 1.30 = 81 : 27 : 27 : 27 : 27 : 9 : 9 : 9 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3: : 3 : 1
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © JePe's LiFe